Kalau selama ini publik mengenal Narasi sebagai “medianya Najwa Shihab”, secara korporasi sekarang ceritanya sudah berubah cukup signifikan.

Grup Djarum milik keluarga Hartono mengambil alih PT Narasi Citra Sahwahita, perusahaan yang menaungi media digital Narasi.

Akuisisi dilakukan melalui PT Global Digital International (GDI), kendaraan investasi yang berada di bawah GDP Venture, bagian dari ekosistem bisnis Grup Djarum.

Pengumuman korporasinya menyebut:

“Pengambilalihan Perseroan oleh PT Global Digital International telah memperoleh persetujuan dari seluruh pemegang saham Perseroan.”

Perubahan pengendali tersebut telah disetujui dan diberitahukan kepada Menteri Hukum RI pada 2 September 2026, kemudian diumumkan kepada publik pada 8 September.

Jadi bagian paling pentingnya adalah:

bukan sekadar Djarum membeli sedikit saham Narasi. Transaksi ini mengakibatkan kendali perusahaan beralih kepada GDI.

Tapi Jangan Bayangkan Djarum Baru Kenalan dengan Najwa Kemarin

Nah, setelah melihat sejarah investasinya, akuisisi ini jadi jauh lebih menarik.

Hubungan Narasi dengan GDP Venture ternyata dimulai sejak 2018, tak lama setelah perusahaan tersebut berdiri.

Pada November 2018, Narasi mendapatkan pendanaan dari GDP Venture dan Go-Ventures, lengan investasi Gojek saat itu.

Najwa sendiri ketika itu menyebut keduanya sebagai:

“strategic partners.”

Dana investasi tersebut direncanakan untuk merekrut talenta, mengembangkan teknologi, membuat event dan membiayai operasional. Nominal investasinya tidak diumumkan.

Artinya:

Djarum bukan orang asing yang baru masuk lalu mengambil Narasi pada 2026. Mereka sudah berada di cap table sejak fase awal pertumbuhan perusahaan.

2018 Investor, 2021 Kasih Pinjaman, 2025 Utangnya Jadi Saham

Dan di sinilah jejak transaksinya semakin menarik.

Dokumen pemberitahuan perusahaan pada Desember 2025 menunjukkan adanya Perjanjian Konversi Surat Hutang antara Narasi dan GDI yang berasal dari 21 Oktober 2021.

Artinya, selain menjadi investor, GDI juga pernah memberikan pendanaan berbentuk utang kepada Narasi.

Kemudian pada 15 Desember 2025, para pemegang saham menyetujui konversi sebagian pinjaman GDI menjadi modal perusahaan.

Hasilnya:

28 saham Seri D dengan nilai nominal total Rp28 juta.

Perlu digarisbawahi: angka Rp28 juta itu adalah nilai nominal saham yang disebut dalam dokumen, bukan berarti kita bisa menyimpulkan nilai ekonomi seluruh investasi atau valuasi Narasi hanya Rp28 juta.

Nilai pinjaman keseluruhan, valuasi perusahaan, dan detail ekonomi transaksinya tidak tersedia dari dokumen publik yang saya temukan.

Jadi kalau dibuat timeline:

2018: GDP Venture masuk sebagai investor strategis

↓

2021: GDI memberikan pinjaman kepada Narasi

↓

2025: sebagian utang dikonversi menjadi saham

↓

2026: GDI mengambil alih saham pemegang saham lain dan menjadi pengendali


Ini lebih mirip hubungan investasi jangka panjang yang akhirnya berujung buyout, bukan akuisisi mendadak.

Apakah Najwa Shihab Menjual Seluruh Sahamnya?

Ini yang belum bisa kita pastikan.

Beberapa pemberitaan hari ini menggunakan istilah “mengambil alih seluruh saham” atau saham dari “seluruh pemegang saham lainnya”. Namun pengumuman yang tersedia secara publik belum membeberkan secara rinci:

  • berapa persen saham GDI sebelum transaksi,
  • berapa persen setelah transaksi,
  • berapa saham yang dijual Najwa Shihab,
  • apakah Najwa masih menyimpan saham,
  • apakah Dahlia Citra dan Catharina Davy masih memiliki saham,
  • berapa valuasi Narasi,
  • serta berapa uang yang dibayarkan Grup Djarum.

Yang bisa dikatakan dengan cukup aman berdasarkan dokumen yang diberitakan adalah:

pengendalian PT Narasi Citra Sahwahita berpindah kepada PT Global Digital International.

Jadi headline “Najwa jual Narasi sepenuhnya ke Djarum” masih terlalu jauh kalau struktur kepemilikan pascatransaksi belum dibuka.

Siapa Sebenarnya yang Dibeli?

Ini juga perlu diluruskan.

Yang diambil alih bukan sekadar akun Instagram Narasi atau program Mata Najwa.

Target transaksinya adalah PT Narasi Citra Sahwahita, badan usaha yang menaungi Narasi.

Perusahaan ini didirikan oleh Najwa Shihab, Dahlia Citra, dan Catharina Davy. Narasi kemudian diverifikasi Dewan Pers pada 29 November 2019.

Jadi secara sederhana:

Najwa Shihab + co-founders → membangun Narasi

Narasi → berada di bawah PT Narasi Citra Sahwahita

PT Narasi Citra Sahwahita → kini dikendalikan GDI

GDI → berada dalam ekosistem GDP Venture / Grup Djarum

Itulah rantai kendalinya.

Yang Bikin Cerita Ini Lebih Besar: Narasi Bukan Media Pertama Djarum

Nah, ini bagian yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar “Najwa menjual Narasi”.

Karena Grup Djarum sedang membangun portofolio media dan entertainment yang lumayan luas.

GDP Venture saat ini mencantumkan kategori khusus Media & Entertainment dalam portofolionya.

Menurut IDNFinancials, sekitar 20 bisnis media dan entertainment berada dalam portofolio GDP Venture, dengan nama yang diberitakan termasuk Kumparan, Yummy, Visinema, IDN Times, Eastern Standard Times, dan sekarang tentunya Narasi.

Yang paling menarik:

Kumparan juga punya sejarah investasi yang sangat mirip.

GDP/GDI sudah masuk ke Kumparan sejak 2017 sebagai investor. Kini sejumlah laporan menyebut GDI telah menjadi pengendali Kumparan juga.

Polanya jadi kelihatan:

masuk sebagai investor → hubungan jangka panjang → kepemilikan bertambah → kontrol.

Dan sekarang pola serupa terlihat di Narasi.

Jadi Ini Bukan Cuma Cerita tentang Najwa

Kalau dilihat dari kacamata industri media, pertanyaan besarnya justru:

seberapa besar Grup Djarum ingin membangun ekosistem media digital Indonesia?

Karena keluarga Hartono sudah memiliki ekosistem bisnis yang luar biasa luas, mulai dari perbankan, teknologi, e-commerce, hingga investasi digital.

Sekarang aset media dan entertainment juga semakin terkonsolidasi di bawah jaringan investasinya.

Narasi punya kekuatan di journalism, current affairs, politik dan komunitas muda.

Kumparan punya distribusi berita digital yang besar.

Visinema berada di film dan entertainment.

Yummy bermain di food content.

Dan berbagai investasi lainnya memberikan akses ke segmen audiens berbeda.

Kalau semuanya dilihat sebagai satu portfolio strategy...

yang dibangun bukan cuma kumpulan website. Yang dibangun adalah attention ecosystem.

Lalu Pertanyaan Rp1 Triliun: Apa yang Terjadi dengan Independensi Narasi?

Inilah elephant in the room. 🐘

Narasi selama bertahun-tahun membangun identitasnya melalui figur Najwa Shihab dan program-program yang kritis terhadap kekuasaan.

Mata Najwa, misalnya, berkali-kali mengangkat isu korupsi, demokrasi, kepolisian, pemilu, kebijakan pemerintah dan berbagai persoalan politik sensitif.

Sekarang perusahaan di balik media tersebut berada di bawah kendali salah satu kelompok bisnis terbesar Indonesia.

Wajar kalau publik kemudian bertanya:

apakah newsroom Narasi tetap memiliki independensi editorial yang sama?

Tapi di titik ini kita harus fair.

Saya belum menemukan bukti bahwa Grup Djarum akan mengintervensi editorial Narasi.

Saya juga belum menemukan pernyataan resmi terbaru dari Najwa atau GDI yang mengatakan akan terjadi perubahan arah editorial.

Jadi mengatakan:

“Djarum beli Narasi supaya Najwa tidak kritis lagi”

adalah spekulasi, bukan fakta.

Kekhawatiran terhadap konsentrasi kepemilikan media sah untuk dibahas, tetapi tidak boleh otomatis berubah menjadi tuduhan adanya intervensi editorial tanpa bukti.

Dan Jangan Lupa: Djarum Sudah Jadi Investor Narasi Sejak 2018

Ini justru counterpoint yang cukup penting.

Kalau kekhawatirannya adalah:

“Sekarang ada uang Djarum di Narasi.”

Well...

uang dari ekosistem GDP Venture sudah masuk sejak 2018.

Dan selama periode tersebut Narasi tetap menghasilkan banyak konten politik yang keras dan kritis.

Yang berubah sekarang bukan keberadaan investor Djarum.

Yang berubah adalah tingkat kontrol korporasinya.

Dulu investor.

Sekarang pengendali.

Dan perbedaan itu memang signifikan.

Kenapa Narasi Mau Diakuisisi?

Untuk bagian ini, kita belum punya penjelasan resmi yang cukup detail dari para pendirinya.

Tapi secara bisnis, akuisisi media digital saat ini tidak terlalu mengejutkan.

Membangun media digital berkualitas itu mahal.

Reporter harus digaji.

Studio harus dijalankan.

Video harus diproduksi.

Teknologi dan distribusi harus dikembangkan.

Event membutuhkan modal.

Sementara model bisnis media digital menghadapi tekanan dari perubahan algoritma platform, pergeseran belanja iklan, serta kompetisi dengan creator economy.

Bahkan sejak investasi pertama pada 2018, Narasi sudah mengatakan modal dari investor akan digunakan untuk talent acquisition, technology, events dan operational expenses.

Dengan dukungan grup sebesar GDP Venture, Narasi secara teori mendapatkan runway, teknologi, jaringan komersial dan peluang ekspansi yang jauh lebih besar.

Trade-off yang kemudian akan diawasi publik adalah:

apakah scale datang tanpa mengorbankan editorial independence?

Ada Detail Lain yang Belum Terjawab

Setelah membaca pengumuman korporasi, laporan bisnis, sampai jejak pendanaan lamanya, menurut saya justru masih ada empat pertanyaan besar:

Berapa Djarum membayar untuk Narasi?

Belum diumumkan.

Berapa persen saham yang sekarang dimiliki GDI?

Struktur pascatransaksi belum dipublikasikan secara rinci.

Apakah Najwa Shihab masih menjadi pemegang saham?

Belum bisa dipastikan dari informasi publik yang tersedia.

Apakah posisi Najwa dan struktur editorial Narasi berubah?

Belum ada informasi publik yang cukup untuk menyimpulkannya.


Dan empat jawaban tersebut menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar headline akuisisinya.

Dari Media Independen Najwa ke Bagian Ekosistem Djarum

Ada sesuatu yang cukup simbolis dari transaksi ini.

Najwa meninggalkan Metro TV pada 2017.

Kemudian bersama Dahlia Citra dan Catharina Davy membangun Narasi sebagai perusahaan media digital generasi baru.

Setahun kemudian GDP Venture masuk sebagai investor.

Delapan tahun setelah hubungan investasi tersebut dimulai...

Grup Djarum sekarang menjadi pengendali perusahaan.

Jadi headline besarnya memang:

“Grup Djarum Ambil Alih Narasi.”

Tapi cerita yang lebih lengkap sebenarnya:

Djarum tidak datang kemarin. Mereka sudah ikut membiayai perjalanan Narasi sejak fase awal, memberikan pendanaan lanjutan melalui utang, mengonversi sebagian tagihan menjadi ekuitas, dan sekarang hubungan investor-founder itu mencapai tahap pengambilalihan kontrol.

Dan mulai sekarang, mungkin pertanyaan publik bukan lagi:

“Siapa pemilik Narasi?”

Itu sudah semakin jelas.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah:

“Setelah pemilik pengendalinya berubah, apakah Narasi yang kita tonton juga akan berubah?”

Jawabannya tidak akan kelihatan dari dokumen akuisisi.

Jawabannya bakal kelihatan dari newsroom mereka dalam beberapa bulan dan tahun ke depan. 👀

Menurut kalian, masuknya Grup Djarum justru bisa membuat Narasi semakin besar dan kuat secara finansial, atau kalian lebih khawatir konsolidasi kepemilikan media seperti ini bisa memengaruhi independensi editorial?